Postingan

PANCASILA, LAHIR SUCI DIGENGGAM NISTA.

Di atas tanah pecah dari rahim ibu, lahir bangsa Merdeka Air sejarah mengalir jadi janji, Pancasila ideologi mulia Tubuh biru bangkit, menantang tirani dengan jiwa setia Dalam pelukan tanah, tekad lahir melawan kuasa durjana Nama pejuang kini jadi simbol, hanya hiasan panggung Perjuangan berdarah tinggal catatan di buku sejarah Harapan tergantung di langit, kabur ditelan mendung Sejarah jadi bayangan, ditertawakan penguasa busuk Idealisme negeri dibungkus korupsi penuh dusta Nepotisme dan oligarki menjelma panggung nista Kemiskinan dijadikan lelucon, rakyat menanggung luka Hutan ditebang, kebijakan palsu jadi alasan pura-pura Di gang gelap insan menggigil menuntut keadilan Di kamar redup tangis perempuan jadi saksi peradaban Di jalan kota ilusi sejahtera menipu mata penuh tipuan Di manakah janji sosial, di manakah nyata kenyataan Di balik sujud, doa lirih naik ke langit Jeritan rakyat terhimpit di bawah kursi kekuasaan Air mata jadi saksi, darah jadi tulisan sejarah Pancasila seharusny...

Apa mau-Mu

 Apa maumu? Apa inginmu? Sudah puaskah kau meludahi hati ini? Aku hanyalah penyembah hati yang telah kau dustai, Seorang budak cinta yang kau puja di atas meja perjamuanmu. Apa maumu? Apa inginmu, wahai penjudi hati? Apa maumu, wahai pencandu ilusi? Kau hancurkan hatiku seperti hujan turun tanpa mendung, Daun gugur tanpa angin. Kini aku tenggelam dalam lautan air mata, Terkapar dalam bayang-bayang kenangan. Kau hadir sebagai mimpi yang tak pernah nyata, Namun meninggalkan luka yang tak terobati. malam ini Jiwaku berteriak dalam bisu, Menanti waktu yang menghapus jejakmu. Setiap detik yang berlalu membawa perih yang mendalam, Kau bermain dengan hatiku seperti wayang tanpa jiwa. Aku terjatuh dan terpuruk, Di tengah reruntuhan cinta yang kau hancurkan tanpa ampun? Waktu seolah membeku, menggigil dalam sepi, Satu persatu, asa yang pernah ada memudar. Aku menatap kosong ke arah yang tak pasti, Mencoba menyusun puing-puing harapan yang  menjadi abu diatas abu  Namun  meski...

Di Bawah Cahaya Abadi

Di Bawah Cahaya Abadi   Kita berjalan di panggung dunia,   menyusuri lorong menuju akhir,   tempat kematian beralih rupa   menjadi pintu kehidupan abadi.   Setiap pagi, ribuan wajah terbit,   menyimpan rahasia, keluh, dan luka,   namun tetap berdiri,   tanpa perlu tepuk tangan dunia.   Kadang aku merasa beban terberat   bersemayam di dadaku,   tapi ketika menoleh ke belakang,   kulihat bayang-bayang gelap   yang juga menelan banyak jiwa.   Maka aku belajar bersyukur:   pada matahari yang menyalakan harapan,   pada suara orang tersayang   yang meneguhkan langkah,   pada pagi yang masih setia   membangunkanku dari tidur.   Meski rindu kadang menggigit,   meski kehilangan menorehkan luka,   cinta tetap menjadi cahaya,   menyalakan semangat   di tengah ra...