PANCASILA, LAHIR SUCI DIGENGGAM NISTA.

Di atas tanah pecah dari rahim ibu, lahir bangsa Merdeka
Air sejarah mengalir jadi janji, Pancasila ideologi mulia
Tubuh biru bangkit, menantang tirani dengan jiwa setia
Dalam pelukan tanah, tekad lahir melawan kuasa durjana

Nama pejuang kini jadi simbol, hanya hiasan panggung
Perjuangan berdarah tinggal catatan di buku sejarah
Harapan tergantung di langit, kabur ditelan mendung
Sejarah jadi bayangan, ditertawakan penguasa busuk

Idealisme negeri dibungkus korupsi penuh dusta
Nepotisme dan oligarki menjelma panggung nista
Kemiskinan dijadikan lelucon, rakyat menanggung luka
Hutan ditebang, kebijakan palsu jadi alasan pura-pura

Di gang gelap insan menggigil menuntut keadilan
Di kamar redup tangis perempuan jadi saksi peradaban
Di jalan kota ilusi sejahtera menipu mata penuh tipuan
Di manakah janji sosial, di manakah nyata kenyataan

Di balik sujud, doa lirih naik ke langit
Jeritan rakyat terhimpit di bawah kursi kekuasaan
Air mata jadi saksi, darah jadi tulisan sejarah
Pancasila seharusnya jawaban, bukan tameng birokrasi penuh tipu




Perlawanan rakyat dijadikan sirkus penuh pangkat
Teriakan keadilan dipelintir jadi hiburan murahan
Politik menjelma komedi busuk, panggung boneka
Aktor tirani menari di atas penderitaan bangsa

Ibu Pertiwi, jangan biarkan air matamu jatuh deras
Air matamu sungai duka yang panjang
Biarlah embun pagi menyeka dukamu yang luas
Bangsa ini masih bernyanyi, meski suara kadang serak

Kami, anak bangsa, tak akan menyerah tetap tegak
Pancasila bukan sekadar simbol, tapi napas perjuangan bijak
Kami berdiri melawan penindasan dengan jiwa kuat
Demi Ibu Pertiwi, demi bangsa yang hebat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa mau-Mu

Di Bawah Cahaya Abadi